Dalam Islam, keluarga adalah unit terkecil namun paling fundamental dalam membentuk masyarakat yang sehat, sejahtera, dan diridhai Allah. Ketahanan keluarga dalam Islam bukan sekadar menyangkut aspek fisik atau ekonomi, tetapi lebih jauh mencakup dimensi spiritual, emosional, sosial, dan moral.
Membangun keluarga yang tangguh berarti membangun keluarga yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, menjunjung tinggi kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, serta saling menasihati dalam kebaikan.
1. Dasar Ketahanan Keluarga dalam Al-Qur’an Islam menjadikan keluarga sebagai tempat bernaung dan sumber ketenangan bagi setiap anggotanya.
Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21) Ayat ini menegaskan bahwa fondasi keluarga adalah sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (kasih sayang). Tiga nilai inilah yang menjadi pilar utama ketahanan keluarga menurut Islam.
Hadis ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga dibangun dari akhlak yang mulia, komunikasi yang baik, serta sikap saling menghormati antara anggota keluarga.
Selain itu, Nabi juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam struktur keluarga, baik dari sisi suami, istri, maupun anak-anak.
3. Pilar Ketahanan Keluarga dalam Islam Dalam pandangan Islam, ketahanan keluarga dibangun atas beberapa pilar: Tauhid dan Ketakwaan: Keluarga yang dibangun atas dasar iman dan ketakwaan akan lebih kuat dalam menghadapi ujian hidup. Komunikasi dan Musyawarah: Islam menganjurkan syura (musyawarah) dalam mengambil keputusan keluarga (QS. Asy-Syura: 38).
simak selengkapnya di Al washliyah TV

